Berita

Jalan Terjal HAPS, Si Balon Udara Internet Mengudara di Indonesia

04 November 2022 - Artikel

Ilustrasi HAPS Avealto sedang diujicoba oleh para teknisi. / Dok. Avealto.com

Bisnis.com, JAKARTA - Untuk beroperasi di Indonesia, wahana dirgantara super atau high altitude platform system (HAPS) dihadapkan pada sejumlah tantangan. Namun, pemerintah terbuka dengan infrastruktur telekomunikasi berbentuk mirip balon udara tersebut.  

Sebelumnya, sebuah perusahaan teknologi yang bermarkas di Inggris, Avealto, menyampaikan bahwa mereka tengah mengembangkan HAPS, yang diharapkan dapat beroperasi di Indonesia pada 2024. 

HAPS Avealto, yang disebut dengan wireless infrastructure platform (WIP), memiliki panjang sekitar 100 meter dan mampu mengangkut beban hingga 55 kilogram. WIP dapat mengudara dalam 3-5 bulan secara stabil. 

HAPS beroperasi secara menetap di stratosfer pada ketinggian 18 kilometer hingga 22 kilometer di atas permukaan bumi. Dengan ketinggian tersebut, Avealto meyakini bahwa aktivitasnya tidak akan penerbangan di Indonesia, yang rata-rata berada di ketinggian 9-11 kilometer. 

Avealto juga memproyeksikan balon udara yang berisi gas helium dan bergerak dengan tenaga surya itu, dapat memberikan layanan internet dengan cakupan 240 kilometer persegi untuk satu HAPS. Latensi yang dihadirkan akan jauh lebih rendah dari satelit, dengan kualitas internet yang lebih baik. 

Mengenai rencana kehadiran HAPS Avealto di Indonesia, Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Adis Alifiawan menyebut Indonesia terbuka dengan teknologi baru. HAPS memiliki kelebihan yang cocok dengan kebutuhan Indonesia, sebagai negara kepulauan yang luas. 

“HAPS secara teori bagus karena dia posisinya tetap. Hanya saja terdapat beberapa tantangan yang harus diperhatikan salah satunya timing,” kata Adis kepada Bisnis, Sabtu (29/10/2022). 

Dia menjelaskan timing yang dimaksud adalah rencana Avealto dalam menghadirkan HAPS ke Tanah Air dan negara lain, dan komersialisasinya. Fokus Kemenkominfo selanjutnya, kata Adis, harga dari kapasitas yang ditawarkan HAPS Avealto. 

Adis menuturkan bahwa infrastruktur telekomunikasi berbasis balon udara juga sempat dikembangkan oleh Google. 

Pada 2011, Google mengembangkan Google Loon. Sayangnya, 10 tahun kemudian atau pada 2021, induk Google, Alphabet menutup proyek Loon karena jangan untuk komersialisasi sangat berat dan risiko yang lebih besar dari yang telah diperkirakan.

Google Loon/Wikimedia Common

Dari sudut pandang pribadinya, Adis melihat HAPS sebagai sesuatu yang menantang dari sisi investasi. 

“Orang berinvestasi tentu ingin balik modal, tetapi itu tergantung dari bisnis model yang mereka buat. Jika konvensional, maka dia akan memberikan harga mahal. Akhirnya, tidak seimbang, ada barang, tidak ada yang beli,” kata Adis. 

Faktor selanjutnya yang harus diperhatikan, lanjut Adis, adalah keberlanjutan dari teknologi HAPS milik Avealto. Layanan internet yang dihadirkan HAPS akan terus melahirkan permintaan pada kemudian hari. 

HAPS tidak dapat memberikan permintaan dalam jumlah yang lebih besar, dengan teknologi yang sama seperti saat mereka hadir pertama kali. 

Untuk menghadirkan teknologi selanjutnya, seperti 2G melompat ke 3G atau 4G, harus didukung oleh ekosistem. Komunitas HAPS harus memiliki peta jalan yang panjang untuk teknologi ini. 

“Jadi jangan sampai mudah layu. Harus punya peta jalan,” kata Adis. 

Dari sisi spektrum, Adis menuturkan sebagai jaringan backhaul pemerintah memiliki sejumlah spektrum yang dapat digunakan untuk HAPS antara lain 27.9-28.2 GHz, 31.0-31.3 GHz, 38-29.5 GHz, 47.2-47.5 GHz dan 47.9-48.2 GHz.  Kemudian jika HAPS sebagai jaringan akses spektrum yang tersedia adalah 1885-1980 MHz, 2010-2025 MHz, dan 2110-2170 MHz. 

Kemenkominfo juga membuka diri seandainya Avealto ingin melakukan uji coba terlebih dahulu di Indonesia.  Kemudian, fokus pemerintah yang terakhir adalah keamanan.

Adis mengatakan meskipun secara teori HAPS terbang di atas ketinggian pesawat, namun selama proses menuju ke atas atau turun ke bawah, HAPS akan melewati batas ketinggian pesawat yang berisiko terjadinya tabrakan. 

Selain itu keandalan atau reabilitas dari HAPS Avealto juga masih dipertanyakan. Apakah balon udara tersebut dapat terus dikontrol selama beroperasi atau tidak. 

“Jadi jika HAPS sudah tersedia [komersial], sudah cukup murah, maka selanjutnya adalah meyakinkan bahwa itu aman,” kata Adis. 

Sementara itu, dalam acara seminar HAPS di Hotel Sheraton, Jakarta, belum lama ini, Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub Sigit Hani mengatakan perlu dipastikan bahwa implementasi HAPS tidak ada dampak terhadap sistem atau layanan aeronautika/penerbangan. 

Selain itu perlu studi mendalam juga untuk memastikan bahwa HAPS terbukti dapat terbang di ketinggian stratosfer untuk waktu yang lama “Isu kritis yang dihadapi adalah keberadaan angin di stratosfer. Rata-rata kecepatan angin stratosfer minimum 30-40 m/s dan terjadi antara 65.000 dan 75 000 kaki tergantung pada garis lintang.

Perlu studi tentang kemampuan untuk menahan hembusan angin (cuaca luar angkasa), terkait dengan sementara atau total kehilangan komunikasi,” kata Sigit. 

Perlu pula studi bahwa platform HAPS menyediakan fungsi untuk sistem navigasi (seperti GNSS) dan potensi penggunaan dengan RPAS/UAS. 

BISNIS AVEALTO

Sementara itu Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Zulfady Syam mengatakan solusi yang dihadirkan oleh Avealto dapat membantu pemerataan internet di Indonesia. Jika ada infrastruktur di atas langit, maka akan makin cepat penetrasi internet. 

HAPS, lanjutnya, juga tidak akan mengganggu bisnis penyedia jasa internet karena nantinya para penyedia jasa internet dapat memberi kapasitas dari pengelola HAPS. “HAPS ini bisa menjadi solusi untuk rural, tetapi untuk urban saya masih meragukan karena urban sudah terkondisi dengan baik oleh jaringan serat optik,” kata Zulfady kepada Bisnis di Jakarta. 

Anggota Dewan Profesi dan Asosiasi Mastel Kanaka Hidayat menilai bahwa HAPS adalah teknologi yang menarik. HAPS adalah satelit yang lebih membumi karena letaknya di bawah dari satelit LEO dan tetap posisinya.  HAPS dapat memberikan internet di daerah antara perkotaan dengan daerah rural. Daerah yang tidak terjangkau oleh serat optik dan seluler, tetapi bukan daerah pedalaman. 

“Di dunia yang penduduknya agak berkumpul itu adalah daerahnya HAPS. Di daerah rural, tetapi memiliki penduduk yang banyak dan berkumpul. Di sana, HAPS secara perhitungan pembiayaan lebih murah dari satelit,” kata Kanaka. 

Dia juga berpendapat teknologi HAPS tidak akan mengganggu sinyal satelit. HAPS seharusnya memiliki frekuensinya sendiri, yang berbeda dengan satelit. 

Sementara itu, Co-founder dan CEO Avealto Walter Anderson mengatakan rencananya HAPS Avealto akan diuji coba di Inggris pada awal 2023, yang meliputi uji coba perihal keamanan, sistem kendali, radio dan lain sebagainya. 

Setelah itu, Avealto berharap pada kuartal III/2023, HAPS Avealto dapat test flight, dengan menggunakan wahana yang lebih kecil, di Indonesia. Kemudian, pada 2024, HAPS sudah dapat dikomersialkan dengan Indonesia sebagai pasar pertama. 

“Besar HAPS untuk test flight adalah 17 meter, sedangkan untuk yang  komersial pada 2024 panjangnya 100 meter,” kata Walter kepada Bisnis di Jakarta. 

Founder dan CEO Avealto Walter Anderson ketika ditemui usai acara HAPS International Seminar di Jakarta, Rabu (2/10/2019). Avealto adalah produsen Wahana Terrestrial Langit atau High Altitude Platform Station (HAPS) yang bermarkas di Inggris. - Bisnis/Leo Dwi Jatmiko

Avealto, lanjutnya, tidak akan menjual layanan mereka langsung ke masyarakat. Avealto akan bekerja sama dengan penyedia jasa internet, termasuk operator seluler, dalam memberikan layanan ke masyarakat. 

Cara kerja HAPS Avealto akan sama seperti satelit. Perbedaannya pada ukuran dan ketinggian pengoperasian wahana, di mana HAPS akan beroperasi di ketinggian 20 kilometer sementara itu satelit, untuk GEO, diketinggian 36.000 kilometer. 

Dengan ketinggian yang lebih rendah, HAPS memiliki keunggulan latensi yang sangat rendah dan kualitas internet yang lebih baik dari satelit. “Kami menjual layanan, tidak menjual perangkat HAPS. Kami yang akan mengoperasikan HAPS,” kata Walter.  

Dari sisi biaya kapasitas, kata Walter, akan lebih murah sekitar 30%-50% dibandingkan dengan membeli kapasitas satelit. 

Hal tersebut dapat terjadi karena biaya pembuatan HAPS lebih murah dari satelit. Jika pembuatan satelit dapat mencapai sekitar US$500 juta, HAPS jauh di bawah itu, Walter belum dapat memberitahu biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun HAPS. 

Sementara itu dari sisi keamanan, dia mengatakan bahwa HAPS Avealto terbuat dari bahan dan gas yang sangat ringan. HAPS juga akan jatuh dengan sangat lambat ke tanah. “Ini sangat aman bagi masyarakat yang ada di bawah. Kami akan memantau selalu HAPS kami sehingga dia tidak lepas kontrol,” kata Walter. 

Selain melakukan uji coba, Avealto juga dalam proses mencari pembiayaan untuk membangun pabrik pembuatan wahana dirgantara di Inggris. 

Avealto saat ini telah berhasil menghimpun 15% persen dari total dana yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pabrik.  

Walter tidak menyebutkan total dana yang mereka butuhkan untuk membangun sebuah pabrik HAPS.

Author: Leo Dwi Jatmiko
Editor : Herdanang Ahmad Fauzan

SOURCE

Secretariat IICF (#0 views)

Berita Terkait

Komentar Untuk Berita Ini (0)

AGENDA KEGIATAN

December 2022
MSSRKJS
123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031